Selasa, Juli 28, 2009

Garuda di Dadaku
" Perjuangan Menggapai Mimpi "


Kejarlah cita-citamu sampai setinggi langit diangkasa. Pepatah ini sangat cocok untuk menggambarkan inti cerita film ini. Garuda di Dadaku, sebuah film yang mengangkat dunia sepakbola Indonesia. Film ini diadaptasi dari trilogi novel anak karangan Benny Rhamdani yang berjudul Mimpi Sang Garuda, Garuda Di Dadaku, dan Garuda Menantang Matahari. kemudian Salman Aristo mengangkatnya menjadi sebuah skenario film.

Garuda di Dadaku bercerita tentang seorang anak bernama Bayu (Emir Mahira) yang bercita-cita menjadi seorang pemain sepakbola. Bayu memiliki impian untuk membela tim nasional sepakbola Indonesia.
Keinginan Bayu menjadi pemain sepakbola mendapat tantangan keras dari kakeknya Usman (Ikranagara). Bagi Usman pemain sepakbola identik dengan kemiskinan dan tak punya masa depan seperti yang dialami anaknya yang sudah meninggal. Ayah Bayu memang seorang pemain sepakbola yang kemudian mati sebagai seorang sopir taksi. Usman tak ingin kejadian yang dialami Ayah Bayu tidak terjadi pada cucu satu-satunya itu.

Untuk itulah, Usman bersikeras mendidik cucunya menjadi anak yang multi talenta. Berbagai kegiatan les diwajibkan kepada Bayu seperti musik, melukis dan bahasa inggris. Namun, bakat sepakboka Bayu yang menurun dari Ayahnya tak dapat dibendung lagi. Bayu makin mendapat letupan semangat dari sahabatnya Heri (Aldo Tasani) untuk terus bermain bola. Herilah yang terus meyakinkan Bayu tentang bakat besar yang dimilikinya. Seorang pelatih sekolah sepakbola yang bernama Pak Johan (Ali Sihasale) pun akhirnya melirik bakat besar yang dimiliki Bayu dan memberi kesempatan kepadanya untuk mengikuti seleksi tim sepakbola nasional U-13. Bayu dengan dibantu Heri dan Bang Duloh (Ramzi) mencari tempat untuk berlatih sepakbola. Sebuah tempat pemakamanlah menjadi tempat berlatih Bayu. Di sanalah mempertemukan mereka dengan seorang gadis kecil anak penjaga makam yang bernama Zahra (Marsha Aruan) yang kemudian menjadi sahabat baru mereka.

Hari demi hari Usman mengetahui kebohongan cucunya yang masih suka bermain bola. Usman pun jatuh terkapar dilapangan hijau saat Bayu merayakan kelolosan dirinya dalam seleksi tim nasional. Namun, akhirnya Usman pun luluh juga melihat tekat kuat yang dimiliki oleh sang cucu dengan memperbolehkan Bayu untuk bermain bola dan meraih cita-citanya sebagai pesepakbola ternama. Dengan memakai sepatu bola pemberian Heri, Bayu mengikuti seleksi tim nasional U-13 yang disaksikan oleh kakek, ibu dan semua orang yang mendukungnya. Perjuangan Bayu pun tak sia-sia, akhrinya ia lolos dan berhak memakai seragam tim nasional Indonesia dengan lambang garuda didadanya.

Film ini juga banyak mengandung sindiran-sindiran terhadap dunia sepakbola tanah air. Ayah Bayu yang akhirnya menjadi seorang supir taksi, merupakan gambaran seorang pemain bola yang harus tertatih-tatih menopang hari tuanya. Tak hanya itu, pemilihan tempat pemakaman sebagai tempat untuk berlatih juga mengisyaratkan bahwa betapa sulitnya mncari tempat bermain untuk anak-anak khususnya bermain bola. Film ini juga menginstruksikan kita bahwa pentingnya pembinaan di usia dini untuk mendapatkan bakat-bakat brilian anak-anak Indonesia. Masalah kurang seriusnya pembinaan atlet-atlet muda jugalah membuat prestasi olahraga khususnya sepakbola sangat mandeg. Inilah yang menyebabkan sepakbola Indonesia tertinggal dengan negara tetangga lainnya yang berjalan dengan cepat dan dijalani dengan serius. Film ini juga sepertinya meminta perhatian PSSI bahwa bakat-bakat seperti Bayu tentunya butuh wadah dan pengalaman berkompetisi agar terbiasa bermain. Meskipun ini merupakan film anak-anak namun, pesan terpenting dalam film ini adalah anak-anak mengajarkan kita tentang rasa nasionalisme yang tulus.